Isu pasar tepatnya pasar tradisional lagi beken belakangan ini. Ini gara-gara para capres dan cawapres kita itu memili sasaran pemilih baru , yaitu di pasar! Can you imagine that.
Waktu itu ada berita capres Jusuf Kalla berkunjung ke pasar Beringharjo Jogjakarta. Tentunya kunjungan ini memancing kehebohan dunk. Lebih heboh lagi saat JK memborong baju batik dan blangkon. Pertanyaannya kira-kira tu baju buat siapa yak! Baru-baru ini juga cawapres Budiono datang ke pasar Tanah Abang. Sebelumnya Budiono juga mengunjungi beberapa pasar tradisional di Jakarta dan beberapa daerah lain. Dalam pernyataannya Budiono berjanji akan meningkatkan kualitas pasar tradisional di Indonesia.
Nah sebenarnya bagaimana pandangan orang Indonesia sendiri tentang pasar? Masih berhubungan dengan pasar juga. Kemarin saya meliput seminar tentang pasar tradisional di Gedung PP Muhamadiyah. Acara ini berbarengan dengan pagelaran aksi musik Dongeng Perubahan oleh Garin Nugroho dan Franky Sahilatua.
Seminar tentang pasar ini menghadirkan narasumber Bupati Bantul Idham Samawi dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga yang juga staf Menkominfo Musa Asyarie. Tadinya saya berpikir seminar ini bakal garing, full of pernyataan yang teoritis dari pejabat. Tetapi akhirnya saya sangat menikmati seminar ini. Soalnya 2 narasumber ini berbeda pendapat dan ngeyel-ngeyelan ^_^ Kalo menyebut pasar tradisional pastilah kita membayangkan pasar kumuh, becek dan bau.
Tetapi hal itu dimentahkan oleh Idham Samawi. Bapak yang sangat vokal ini langsung menyarankan para peserta seminar untuk berkunjung ke pasar Imogiri atau Piyungan Bantul. Kenapa? Karena ternyata pasar ini sudah berubah. Bentuknya memang pasar tradisional dengan segala kesederhanaannya namun pasar ini memiliki tata ruang yang lebih baik.
Kemudian pak Idham pun bercerita soal proyek pasar ini. Tidak dapat disangkal kalo 14 persen hajat hidup masyarakat Bantul itu sendiri berasal dari pasar. Dengan kenyataan ini peningkatan kualitas pasar memang harus dilakukan tanpa membebani warga pasar. Terus terang saya mengagumi cara berpikir pak Idham yha. Karena beliau benar-benar memperhatikan segala sesuatunya dengan regulasi. Misalnya membatasi pembangunan toko franchise seperti circle k atau Alfamart. Untuk toko yang buka 24 jam saja dibatasi hanya 98 buah. Lalu pengaturan jarak antara department store dengan pasar juga diperhatikan. Saya salut. Karena dengan pemikiran seperti ini pelaku pasar pun tidak akan tersaingi. Nah balik ke soal pasar. Pembenahan pasar ini sendiri udah dilakukan oleh Bantul. Tidak ada lagi pasar kumuh. Yang ada hanya pasar tradisional dengan tata ruang yang lebih rapi. Saat pembenahan pasar selesai dilakukan, para pedagang lama tidak perlu repot membayar kios atau los pasar yang baru. Mereka semua disediakan tempat. Tadinya los pasar lama berjumlah 200 tetapi setelah ditata lagi menjadi 400 los. Nah yang 200 los pasar ini milik pedagang lama tanpa membeli, sedangkan yang 200 lagi, dijual ke pedagang baru. Cukup adil kan.
Kalo melihat kota Jogja sendiri...pasar sudah mulai terlupakan. Karena diganti dengan banyak hipermarket. Bahkan penempatan hipermarket itu sendiri terkadang merugikan pelaku pasar. Contohnya pasar caturtunggal. Seorang pedagang pasar tersebut mengeluhkan pasar yang jam 9 pagi sudah sepi pembeli. Padahal biasanya sampai jam 12 pun masi ramai. Ya iyalah kalo dipikir sebelahnya ada Plaza gtu. Namun ini emang realitasnya sih.
Menurut saya menyelesaikan masalah ini tidak hanya 1 pihak saja. Tetapi pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar supaya pasar tradisional ini tidak hilang. Pemerintah bisa mengikuti ide sederhana Bantul atau mungkin pembenahan pasar di daerah lain.
Indonesia memang membutuhkan pemimpin yang berimbang. Terpinggirkannya pasar tradisional juga bukan karena masalah modal besar saja. Saya sih menganggap pasar itu sebenarnya aset budaya juga. Dimana di dalamnya masih ada yang menjual aneka jajanan pasar, kuliner daerah, sayur segar dengan harga murah. (jadi inget kalo dulu sering ke pasar sama mama) . Kalo hipermarket menjual kenyamanan, tetapi pasar tradisional menjual karakter budaya daerah setempat. Memang para pedagang pasar itu warga yang perlu diperhatikan. Tetapi bisa saya bilang tidak semua pedagang pasar itu susah. Banyak juga yang mampu. Kalo bicara soal masyarakat ga mampu di Indonesia itu, ga bisa nyalahin pemerintah juga. Terkadang orang susah itu sebuah pilihan Ada yang mau berusaha menjadi lebih baik, tetapi ada juga yang minta disuap terus. Sampai kapan kita bisa maju kalo semua orang seperti itu. Mungkin ada kalanya masyarakat Indonesia itu dididik untuk menjadi lebih cerdas. Tetapi saya tetap cinta pasar tradisional tuh...hahaha.
Waktu itu ada berita capres Jusuf Kalla berkunjung ke pasar Beringharjo Jogjakarta. Tentunya kunjungan ini memancing kehebohan dunk. Lebih heboh lagi saat JK memborong baju batik dan blangkon. Pertanyaannya kira-kira tu baju buat siapa yak! Baru-baru ini juga cawapres Budiono datang ke pasar Tanah Abang. Sebelumnya Budiono juga mengunjungi beberapa pasar tradisional di Jakarta dan beberapa daerah lain. Dalam pernyataannya Budiono berjanji akan meningkatkan kualitas pasar tradisional di Indonesia.
Nah sebenarnya bagaimana pandangan orang Indonesia sendiri tentang pasar? Masih berhubungan dengan pasar juga. Kemarin saya meliput seminar tentang pasar tradisional di Gedung PP Muhamadiyah. Acara ini berbarengan dengan pagelaran aksi musik Dongeng Perubahan oleh Garin Nugroho dan Franky Sahilatua.
Seminar tentang pasar ini menghadirkan narasumber Bupati Bantul Idham Samawi dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga yang juga staf Menkominfo Musa Asyarie. Tadinya saya berpikir seminar ini bakal garing, full of pernyataan yang teoritis dari pejabat. Tetapi akhirnya saya sangat menikmati seminar ini. Soalnya 2 narasumber ini berbeda pendapat dan ngeyel-ngeyelan ^_^ Kalo menyebut pasar tradisional pastilah kita membayangkan pasar kumuh, becek dan bau.
Tetapi hal itu dimentahkan oleh Idham Samawi. Bapak yang sangat vokal ini langsung menyarankan para peserta seminar untuk berkunjung ke pasar Imogiri atau Piyungan Bantul. Kenapa? Karena ternyata pasar ini sudah berubah. Bentuknya memang pasar tradisional dengan segala kesederhanaannya namun pasar ini memiliki tata ruang yang lebih baik.
Kemudian pak Idham pun bercerita soal proyek pasar ini. Tidak dapat disangkal kalo 14 persen hajat hidup masyarakat Bantul itu sendiri berasal dari pasar. Dengan kenyataan ini peningkatan kualitas pasar memang harus dilakukan tanpa membebani warga pasar. Terus terang saya mengagumi cara berpikir pak Idham yha. Karena beliau benar-benar memperhatikan segala sesuatunya dengan regulasi. Misalnya membatasi pembangunan toko franchise seperti circle k atau Alfamart. Untuk toko yang buka 24 jam saja dibatasi hanya 98 buah. Lalu pengaturan jarak antara department store dengan pasar juga diperhatikan. Saya salut. Karena dengan pemikiran seperti ini pelaku pasar pun tidak akan tersaingi. Nah balik ke soal pasar. Pembenahan pasar ini sendiri udah dilakukan oleh Bantul. Tidak ada lagi pasar kumuh. Yang ada hanya pasar tradisional dengan tata ruang yang lebih rapi. Saat pembenahan pasar selesai dilakukan, para pedagang lama tidak perlu repot membayar kios atau los pasar yang baru. Mereka semua disediakan tempat. Tadinya los pasar lama berjumlah 200 tetapi setelah ditata lagi menjadi 400 los. Nah yang 200 los pasar ini milik pedagang lama tanpa membeli, sedangkan yang 200 lagi, dijual ke pedagang baru. Cukup adil kan.
Kalo melihat kota Jogja sendiri...pasar sudah mulai terlupakan. Karena diganti dengan banyak hipermarket. Bahkan penempatan hipermarket itu sendiri terkadang merugikan pelaku pasar. Contohnya pasar caturtunggal. Seorang pedagang pasar tersebut mengeluhkan pasar yang jam 9 pagi sudah sepi pembeli. Padahal biasanya sampai jam 12 pun masi ramai. Ya iyalah kalo dipikir sebelahnya ada Plaza gtu. Namun ini emang realitasnya sih.
Menurut saya menyelesaikan masalah ini tidak hanya 1 pihak saja. Tetapi pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar supaya pasar tradisional ini tidak hilang. Pemerintah bisa mengikuti ide sederhana Bantul atau mungkin pembenahan pasar di daerah lain.
Indonesia memang membutuhkan pemimpin yang berimbang. Terpinggirkannya pasar tradisional juga bukan karena masalah modal besar saja. Saya sih menganggap pasar itu sebenarnya aset budaya juga. Dimana di dalamnya masih ada yang menjual aneka jajanan pasar, kuliner daerah, sayur segar dengan harga murah. (jadi inget kalo dulu sering ke pasar sama mama) . Kalo hipermarket menjual kenyamanan, tetapi pasar tradisional menjual karakter budaya daerah setempat. Memang para pedagang pasar itu warga yang perlu diperhatikan. Tetapi bisa saya bilang tidak semua pedagang pasar itu susah. Banyak juga yang mampu. Kalo bicara soal masyarakat ga mampu di Indonesia itu, ga bisa nyalahin pemerintah juga. Terkadang orang susah itu sebuah pilihan Ada yang mau berusaha menjadi lebih baik, tetapi ada juga yang minta disuap terus. Sampai kapan kita bisa maju kalo semua orang seperti itu. Mungkin ada kalanya masyarakat Indonesia itu dididik untuk menjadi lebih cerdas. Tetapi saya tetap cinta pasar tradisional tuh...hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar